Next post

Anak Usia di Atas 5 Tahun Masih Mengompol, Normal atau Tidak?
Dokter Ingatkan Risiko Telur Setengah Matang untuk Bayi

Dokter Ingatkan Risiko Telur Setengah Matang untuk Bayi

Dokter Ingatkan Risiko Telur Setengah Matang untuk Bayi

Telur dikenal sebagai salah satu sumber protein berkualitas tinggi yang mendukung pertumbuhan anak. Namun, orang tua perlu berhati-hati dalam cara pengolahannya, terutama saat mulai memperkenalkan telur sebagai makanan pendamping ASI (MPASI).

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) , Piprim Basarah Yanuarso , menegaskan bahwa bayi dan anak tidak boleh diberikan telur mentah atau setengah matang.

Telur yang tidak dimasak sempurna berisiko mengandung bakteri Salmonella , penyebab infeksi saluran cerna atau salmonelosis.

“Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella yang menyebabkan infeksi saluran cerna,” jelas Piprim dalam keterangan tertulis IDAI,

Risiko Infeksi Salmonella

Infeksi Salmonella dapat menimbulkan gejala seperti:
* Diare
* Demam
* Nyeri perut
* Muntah
* Dehidrasi

Pada bayi dan anak kecil, infeksi ini bisa lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Piprim menekankan bahwa risiko kesehatan jauh lebih besar dibandingkan manfaat gizi dari telur mentah atau setengah matang.

Sebaliknya, telur yang dimasak hingga matang aman dikonsumsi dan tetap kaya akan protein, vitamin, serta mineral penting untuk tumbuh kembang anak.

Kapan Bayi Boleh Makan Telur?

Selain cara pengolahan, usia dan kesiapan bayi juga harus diperhatikan.
ASI eksklusif tetap menjadi rekomendasi utama hingga bayi berusia 6 bulan, sesuai anjuran WHO dan IDAI.
Setelah 6 bulan, bayi mulai membutuhkan energi dan zat gizi tambahan melalui MPASI.

Pemberian MPASI sebelum usia 4 bulan tidak dianjurkan, kecuali dalam kondisi khusus atas pertimbangan dokter.

Tanda bayi siap menerima MPASI antara lain:
* Mampu menegakkan kepala dan leher dengan stabil
* Bisa duduk dengan bantuan
* Mampu mengoordinasikan gerakan mulut untuk menerima dan menelan makanan

Telur Harus Dimatangkan dengan Baik

Setelah bayi siap menerima MPASI, telur dapat diperkenalkan sebagai sumber protein. Teksturnya sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan makan bayi, misalnya dihaluskan atau dicampur dengan bubur.

Orang tua perlu memastikan:

* Telur dimasak hingga putih dan kuningnya matang sempurna
* Jika menggunakan hidangan berbahan telur setengah matang, pilih telur yang telah dipasteurisasi sesuai standar keamanan pangan
* Menjaga kebersihan tangan, peralatan, dan mencegah kontaminasi silang
* Menyimpan telur dengan benar, serta tidak menggunakan telur yang retak atau rusak

“Keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap praktik pemberian makanan,” tegas IDAI.

✨ Kesimpulan Telur adalah sumber gizi penting bagi anak, tetapi harus diolah dengan benar. Dengan memasak telur hingga matang, orang tua dapat memastikan anak mendapatkan manfaat protein dan nutrisi tanpa mengorbankan keamanan pangan.

Source : CNN Indonesia

Kembali ke blog